harry potter dan pangeran berdarah campuran

Harry potter terbaru, update harry potter

Harry Potter
Buat para remaja nih yang hari ini pada santai atau weekend tapi bingung engga ada sesuatu yang ingin dilakukan, mending sambil baca-baca buku komik, ilmu pengetahuan  atau Novel Harry Pottter kesukaan anda
Dan aku ada sedikit berbagi cerita ini Harry Potter Dan Pangeran Berdarah Selamat membaca, semoga hari-hari anda selalu menyenangkan dengan adanya Novel indonesia maupun di Negara lainnya.

01. MENTERI YANG LAIN
Saat itu menjelang tengah malam dan perdana Menteri sedang duduk sendirian di kantornya, membaca laporan panjang yang lewat begitu saja melalui otaknya tanpa meninggalkan makna sedikit pun. Dia sedang menunggu telepon dari presiden Negara yang jauh, dan diantara bertanya-tanya kapan orang sialan itu akan menelepon dan berusaha menekan ingatan tak menyenangkan akan minggu yang sangat panjang, melelahkan, serta sulit, nyaris tak ada ruang tersisa di otaknya untuk hal-hal lain. Semakin dia berusaha memfokuskan pikiran pada halaman tercetak di depannya, semakin jelas Perdana Menteri bisa melihat wajah kegirangan salah satu lawan politiknya. Lawan politik yang satu ini telah muncul dalam berita hari itu, tak hanya menyebutkan satu per satu semua kejadian mengerikan yang terjadi sepanjang minggu lalu (lagi pula siapa yang perlu diingatkan), namun juga menjelaskan kenapa masing-masing musibah itu adalah kesalahan pemerintahan.
Denyut nadi Perdana Menteri bertambah cepat mengingat tuduhan-tuduhan ini, karena semuanya tidak adil dan tidak benar. Bagaimana mungkin pemerintahnya diharapkan bisa mencegah jembatan itu ambruk? Sungguh kelewatan kalau ada yang menuduh mereka tidak menyediakan cukup dana untuk jembatan. Jembatan itu belum lagi sepuluh tahun, dan para ahli yang paling top pun bingung, tak bisa menjelaskan kenapa jembatan itu mendadak putus jadi dua, menjerumuskan selusin mobil ke dalam sungai dalam di bawahnya. Dan beraninya orang menuduh bahwa kurang polisilah penyebab kedua pembunuhan sangat mengerikan yang dipublikasikan secara meluas? Atau bahwa pemerintah mestinya sudah bisa meramalkan terjadinya badai ajaib di West Country yang telah menelan begitu banyak korban baik jiwa maupun harta benda. Dan salahnyakah jika salah satu menteri mudanya, Herbert Chorley, telah memilih minggu itu untuk bersikap begitu ganjil sehingga sekarang dia akan melewatkan lebih banyak waktu bersama keluarganya?
“Suasana muram menyelimuti Negara ini,” si lawan politik menyimpulkan, nyaris tanpa menyembunyikan seringai lebarnya.
Dan celakanya, ini betul sekali. Perdana Menteri merasakannya sendiri; orang-orang betul-betul tampak lebih merana daripada biasanya. Bahkan cuaca pun suram; banyak kabut dingin di tengah bulan juli … ini tidak benar, ini tidak normal …
Dia membalik laporan ke halaman dua, melihat laporan itu masih panjang, lalu menyerah. Seraya meregangkan lengan di atas kepala, dia melihat ke sekeliling kantornya dengan pilu. Kantornya bagus, dengan perapian pualam indah menghadap ke jendela-jendela panjang berbingkai, yang sekarang tertutup rapat gara-gara hawa dingin yang aneh. Dengan sedikit bergidik Perdana Menteri bangkit dan berjalan ke jendela, memandang kabut yang berkumpul dan menekan jendela. Saat itulah, ketika berdiri membelakangi ruangan, dia mendengar batuk pelan di belakangnya.
Dia membeku, hidungnya menempel pada bayangan wajahnya yang ketakutan di kaca jendela yang gelap. Dia mengenali batuk itu. Dia pernah mendengarnya sebelumnya. Dia berbalik, sangat perlahan, menghadap ruangan yang kosong.
“Halo?” katanya berusaha terdengar lebih berani daripada yang dirasakannya.
Sesaat dia membiarkan dirinya dikuasai harapan mustahil bahwa tak akan ada yang menjawabnya. Meskipun demikian, jawaban langsung terdengar, suara yang garing dan tegas yang kedengarannya seperti membaca pernyataan yang tertulis. Suara itu datangnya — seperti yang telah diketahui Perdana Menteri waktu mendengar batuk yang pertama kali dari pria kecil bertampang kodok memakai wig perak panjang yang tergambar dalam lukisan cat minyak kecil kotor di sudut ruangan yang jauh.
“Kepala Perdana Menteri Muggle. Perlu sekali kita bertemu. Mohon segera ditanggapi. Salam, Fudge. Pria dalam lukisan memandang Perdana Menteri dengan ingin tahu.
“Er,” kata Perdana Menteri, “ini bukan saat yang cocok untuk saya … saya sedang menunggu telepon, soalnya … dari presiden ne—”
“Itu bisa diatur-ulang,” kata lukisan segera. Hati Perdana Menteri mencelos. Itu yang dia takutkan.
“Tetapi saya sungguh berharap bisa bicara-”
“Kita atur agar Presiden lupa menelepon anda. Alih-alih sekarang, dia akan menelepon besok malam,” kata pria kecil itu. “Tolong segera menjawab Mr Fudge.”
“Saya … oh … baiklah,” kata Perdana Menteri lemah. “Ya, saya akan menemui Fudge.”
Dia bergegas kembali ke mejanya, seraya meluruskan dasinya. Baru saja dia duduk dan mengatur agar ekspresi wajahnya tampak rileks dan tak terganggu, api hijau terang mendadak berkobar di perapiannya, di bawah rak pualamnya. Dia mengawasi, berusaha tidak menunjukkan keterkejutan ataupun ketakutan, ketika seorang pria gemuk muncul dalam kobaran api itu, berpusing secepat gasing. Beberapa detik kemudian, dia melompat keluar dari perapian ke permadani antik yang agak bagus, mengibaskan abu dan mantelnya yang panjang bergaris, topi bowler berwarna hijau-limau di tangannya.
“Ah … Perdana Menteri,” kata Cornelius Fudge, melangkah maju dengan tangan terjulur. “Senang bertemu anda lagi.”
Perdana Menteri sejujurnya tak bisa membalas dengan ucapan yang sama, maka diam saja. Dia sama sekali tak senang bertemu Fudge, yang muncul dari waktu ke waktu. Kemunculannya sendiri sudah menakutkan, dan biasanya kalau Fudge muncul Perdana Menteri akan mendengar kabar yang sangat buruk. Lagipula, Fudge tampak jelas kelelahan. Dia lebih kurus, kepalanya lebih botak, rambutnya lebih banyak ubannya, dan wajahnya tampak kusut. Perdana Menteri sudah pernah melihat penampilan semacam ini pada banyak politikus sebelumnya, dan ini tak pernah menjadi pertanda baik.
“Bagaimana saya bisa membantu Anda?” tanyanya, sambil sekilas menjabat tangan Fudge dan memberi isyarat ke arah kursi yang paling keras di depan mejanya.
“Sulit mau mulai dari mana”, gumam Fudge, seraya menarik kursi, duduk dan meletakkan topi bowler-nya di atas lututnya. “Minggu yang sungguh gila, sungguh gila…”
“Anda mengalami minggu yang buruk juga?” tanya Perdana Menteri kaku, berharap dengan berkata demikian dia sudah menyiratkan bahwa masalahnya sendiri sudah banyak, tanpa perlu ditambahi masalah Fudge.
“Ya, tentu saja,” kata Fudge, mengusap matanya dengan letih dan memandang murung Perdana Menteri. “Saya mengalami minggu yang sama dengan Anda, Perdana Menteri. Jembatan Brockdale…pembunuhan keluarga Bones dan Vance…belum lagi kehebohan di West Country…”
“Anda—er—maksud saya, beberapa rakyat Anda terlibat dalam—dalam peristiwa-peristiwa itu, kan?”
Fudge memandang Perdana Menteri dengan tatapan yang agak tegang.
“Tentu saja mereka terlibat,” katanya. “Mestinya Anda sudah menyadari apa yang terjadi?”
“Saya…”gagap Perdana Menteri.
Persis sikap seperti inilah yang membuatnya sangat membenci kunjungan Fudge. Bagaimanapun juga dia Perdana Menteri dan tak suka disudutkan sampai merasa seperti murid yang tak tahu apa-apa. Tetapi tentu saja, situasinya selalu begini sejak pertemuannya dengan Fudge pada malam pertamanya sebagai Perdana Menteri. Dia ingat jelas peristiwa itu, seakan baru terjadi kemarin, dan tahu itu akan menghantuinya sampai hari kematiannya.
Dia sedang berdiri sendirian di kantor ini, menikmati kemenangan yang berhasil diraihnya setelah bertahun-tahun diimpikan dan direncanakan, ketika didengarnya bunyi orang batuk di belakangnya, persis malam ini. Ketika dia berbalik ternyata lukisan kecil jelek itu berbicara kepadanya, memberitahunya bahwa Menteri Sihir akan datang dan memperkenalkan diri.

Sumber:http://www.bacanovelonline.com/

Snow white


                                         Snow white

          Once upon a time there was a little girl named Snow White. She lived with her Aunt and because Her parents were dead.
           One day, she heard he Uncle and Aunt talking about leaving Snow White in the castle, because they both wanted to go to America and they didn’t have enough money to take Snow White.
          Snow White did not want her Uncle and Aunt to do this so she decided iy would be best if she ran away. The next morning she ran away from home when her Aunt and Uncle were having breakfast. She ran away into the woods.
         Then she saw this little cottage. She knocked but no one answered, so she went inside and fell asleep.
          Meanwhile, the seven dwarfs were coming home from work. They went inside, and they found that Snow White was sleeping. Snow White woke up and she saw the dwarfs said, ‘’what is your name?’’. Snow White said, ‘’My name is Snow White.’’ Doc, one of the dwarfs said, ‘if you wish, you may live here with us’’. Snow White said, ‘’ Oh could I? Thank you’’. Then Snow White told the dwarfs the whole story and now, she and the seven dwarfs lived happily ever after.

The Red and Blue Coat

Once there two boys who were great friends and they were determined to remain that way forever. When they gerw up and got married, they built their houses facing one another. There was a small path that formed a border between their farms,
One day, a trickster from the village decided to play a trick on them. He dressed himself in a two color coat that was devide down the middle. So, one side of the coat was red and the other side was blue.
The trickster wore this coat and walked along the narrow path between the houses of the two friends. They were each working opposite each other in their fields. The trickster made enough noise as he passed them to make sure that each of them would look up and see him passing.
At the end of the day, one friend said to the other, ''Wasn't that a beatiful red coat that man was wearing today.?''
''No,''the other replied.''it was a blue coat.''
''I saw the man clearly as he walked between us!'' said the first, ''His coat was red.''
''You are wrong!'' said the other man. ''I saw it too, and it was blue.''
''I know what i saw!'' angrily the first man. ''The coat was red!
''You don't know anyting,'' the second man replied insited.''it was blue!''
They kept arguing about this over and over, insulted each other and eventually, they began to beat each other and roll around on the ground.

Cerita Inggris Indonesia

To Whom it May Concern
 
My name is Sleeping Beauty. Yes I am the Sleeping Beauty they wrote about. What they didn’t tell you was that my real name was Edna. I hear you gasp in horror! Its ok, I don’t like it either. I don’t think it’s a name for a princess. I got stuck with the name Sleeping Beauty when I turned 16 years old. Yes I look like her. Well I am her, the only difference is, I have long black hair and the one they drew had golden brown hair, they got the rest right though; pale complexion, quite tall and skinny, but not unhealthy skinny, I hope! The sleeping bit happened by accident not from a prick on a finger and certainly not from a witches spell. In no way has my life been magical with witches and fairies. As for the kiss and living happily ever after, I will come to that later. I would like to tell you how it really was, the truth, not sweetened up.

Cari Artikel !


loading...